Dragon Quest I & II HD-2D Remake: Kembalinya Nostalgia ke Akar RPG

8

Perilisan Dragon Quest I & II HD-2D Remake bukan sekadar kebangkitan retro; ini adalah pengingat yang menyedihkan tentang bagaimana permainan peran pertama kali menangkap imajinasi. Bagi banyak orang, termasuk saya sendiri, Dragon Warrior asli (sekarang Dragon Quest I ) di NES bukan sekadar game—merupakan pintu gerbang menuju suatu genre. Pembuatan ulang ini tidak mencoba untuk menemukan kembali rodanya, namun sebaliknya, dengan penuh kasih merekonstruksi pengalaman formatif tersebut untuk audiens modern.

Warisan Pelopor Genre

Dragon Quest I & II HD-2D Remake adalah konsep ulang kedua Square Enix atas judul klasik mereka, setelah suksesnya Dragon Quest III HD-2D Remake tahun lalu. Game-game ini merupakan dasar dari subgenre RPG Jepang (JRPG). Meskipun bukan ulasan yang komprehensif, meninjau kembali judul-judul ini memicu kenangan yang jelas tentang penemuan kekuatan narasi dalam game.

Bagi mereka yang belum terbiasa, awal tahun 1990-an adalah era di mana RPG sering ditemukan secara kebetulan, seperti salinan gratis Dragon Warrior yang disertakan dengan langganan Nintendo Power. Tindakan sederhana membaca cerita alih-alih hanya bereaksi terhadap tindakan adalah hal yang revolusioner. Yang asli bukan tentang menekan tombol dengan panik; ini tentang membenamkan diri dalam dunia melalui teks.

Peningkatan Visual dan Gameplay

Pembuatan ulang ini mempertahankan gaya seni ikonik Akira Toriyama (Dragon Ball ) tetapi meningkatkannya dengan estetika HD-2D yang mencolok. Sprite karakter lebih kaya detailnya, diatur dengan lingkungan 3D yang subur. Akting suara, yang dibawakan dengan aksen khas Inggris (kekhasan yang menawan), menambah lapisan pencelupan lainnya.

Selain visual, peningkatan kualitas hidup membuat pengalaman lebih mudah diakses. Pertarungan yang lebih cepat, perjalanan warp, penyimpanan otomatis, dan bahkan penambahan sederhana untuk berlari secara drastis meningkatkan kegunaan. Perubahan ini tidak mengubah pengalaman inti, namun menyederhanakan formula klasik untuk audiens modern.

Konteks Cerita dan Kemampuan Baru

Pembuatan ulang ini juga memperluas narasi aslinya. Dragon Quest II, khususnya, mendapat manfaat dari konteks tambahan. Kisah menyatukan keturunan hero game pertama terasa lebih nyambung berkat tambahan-tambahan kecil namun bermakna. Dimasukkannya kemampuan baru—seperti serangan multi-target dan refleksi kerusakan—menambah kedalaman strategis dalam pertempuran, terutama di Dragon Quest II, di mana Pangeran Midenhall mengandalkan teknik ini karena dia tidak bisa menggunakan sihir.

Daya Tarik Kesederhanaan yang Abadi

Kejeniusan Dragon Quest yang asli tetap utuh. Kastil bos terakhir tampak menakutkan di dekatnya sejak awal, pilihan desain yang halus namun efektif yang menyampaikan kesan malapetaka yang akan datang. Terlepas dari peningkatan ini, remake ini masih merupakan game lama dalam hal mekanika. Aspek gimnya tetap berbasis giliran, dan ceritanya tidak inovatif menurut standar saat ini.

Pembuatan ulang ini terutama diperuntukkan bagi mereka yang tumbuh dengan Dragon Quest atau yang penasaran dengan asal usul genre JRPG.

Ini bukanlah judul-judul yang akan mendefinisikan ulang game pada tahun 2024, tetapi ini adalah konsep ulang klasik yang setia dan dibuat dengan penuh kasih sayang yang pantas untuk dinikmati. Dragon Quest I & II HD-2D Remake adalah perjalanan nostalgia bagi para veteran dan pengalaman pendidikan bagi pendatang baru. Apakah harganya yang $60 saat ini masih bisa diperdebatkan, namun kemungkinan besar akan menjadi pembelian penting saat dijual.

Game ini dirilis pada 30 Oktober untuk PC, PS5, Nintendo Switch, Xbox Series X, dan S.