“Heart Eyes” Netflix Menghadirkan Sentuhan Valentine yang Berdarah dan Lucu

14

Film Hari Valentine tidak harus bertemakan hati dan bunga. Slasher-rom-com baru Netflix, Heart Eyes, adalah gabungan genre kekerasan dan kesadaran diri yang membalikkan naskah horor dan romansa. Film ini merupakan perpaduan yang sangat efektif antara ketakutan, darah kental, dan meta-humor, mengingatkan pada Scream tetapi dengan sisi yang jelas lebih berdarah.

Sentuhan Membunuh dalam Permainan Cupid

Premisnya sederhana: Seorang pembunuh bertopeng sedang berburu pasangan di Seattle pada Hari Valentine. Alih-alih menggunakan panah cinta, pembunuh ini menggunakan metode yang jauh lebih mematikan. Film ini mengikuti Ally (Olivia Holt), seorang eksekutif periklanan muda yang karier dan kehidupan pribadinya sedang naik daun. Dia terobsesi dengan mantannya, dan kampanye bencana yang menampilkan sepasang kekasih yang meninggal secara sinematik telah mempertaruhkan pekerjaannya.

Bosnya, Crystal (Michaela Watkins), memberinya satu kesempatan terakhir: bermitra dengan Jay (Mason Gooding), yang dianggap sebagai senjata rahasia perusahaan. Tangkapannya? Ally dan Jay terus bertemu satu sama lain dalam skenario “bertemu-imut” yang membuat ngeri, meski dengan keras menyangkal adanya ketertarikan romantis. Tentu saja, pembunuh Mata Hati melihat sesuatu secara berbeda, melancarkan serangan kekerasan yang memaksa mereka berjuang untuk bertahan hidup… dan mungkin jatuh cinta dalam prosesnya.

Kimia dan Genre Savvy

Kesuksesan film ini bergantung pada chemistry antara Holt dan Gooding. Gurauan argumentatif mereka terasa tulus dan mendasarkan absurditas pada dinamika manusia yang ada. Holt, yang baru saja keluar dari Totally Killer, memberikan penampilan yang menarik, sementara Gooding mendapat lebih banyak ruang untuk bersinar dibandingkan peran Scream baru-baru ini.

Heart Eyes tidak hanya mengandalkan petunjuknya saja. Karakter pendukung, seperti sahabat Ally yang blak-blakan, Monica (Gigi Zumbado), menambah kedalaman. Cameo dari Devon Sawa dan Jordana Brewster sebagai detektif yang tidak kompeten menyuntikkan kredibilitas genre, lengkap dengan anggukan penuh pengertian pada karya mereka sebelumnya (referensi licik ke spin-off Fast & Furious mereka). Kostum si pembunuh juga menonjol, memadukan estetika pedang klasik dengan sentuhan ikonik dan modern.

Surat Cinta yang Berlebihan

Kekerasan film ini sangat mengerikan, memuaskan penggemar horor tanpa mengorbankan elemen rom-com. Apa yang benar-benar membedakan Heart Eyes adalah ketertarikannya terhadap genre yang ditumbangkannya. Ini mengolok-olok komersialisme Hari Valentine sekaligus merayakan kekonyolan, keistimewaan, dan, ya, romansa liburan tersebut.

Heart Eyes bukan hanya film horor atau rom-com; itu adalah perpaduan keduanya yang kacau dan sadar diri. Ini membuktikan bahwa hiburan Hari Valentine bisa jadi penuh darah, lucu, dan benar-benar menghibur.