Presiden Donald Trump secara aktif mempersulit negosiasi untuk mendanai Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), termasuk Administrasi Keamanan Transportasi (TSA), dengan mendesak agar undang-undang identitas pemilih yang tidak terkait dimasukkan dalam kesepakatan apa pun. Kebuntuan ini berisiko memperpanjang penutupan sebagian pemerintahan yang telah menyebabkan gangguan di bandara, sehingga pekerja TSA menghadapi cuti yang tidak dibayar dan potensi kekurangan staf.
Penutupan DHS dan Kekacauan Bandara
Penutupan DHS yang sedang berlangsung berarti karyawan TSA tidak dibayar, sehingga menyebabkan peningkatan ketidakhadiran dan perpanjangan garis keamanan di bandara. Para anggota parlemen berupaya mencapai kesepakatan pendanaan sebelum reses Paskah, namun kemajuan tersebut terhambat oleh perbedaan pendapat antar partai dan intervensi Trump. Senator Angus King (I-ME) telah menolak usulan DHS dari Partai Republik dan menyebutnya sebagai “ilusi”, yang menandakan perpecahan yang mendalam.
Tuntutan Trump yang Tidak Terkait
Trump menuntut anggota parlemen meloloskan UU SAVE America bersamaan dengan pendanaan DHS. RUU ini akan memberlakukan persyaratan identitas pemilih yang lebih ketat, termasuk bukti kewarganegaraan untuk pendaftaran dan pembatasan pemungutan suara melalui pos. Ia juga mengajukan tuntutan-tuntutan yang tidak terkait, seperti pelarangan atlet transgender dan layanan kesehatan bagi anak di bawah umur, sehingga semakin mempersulit negosiasi.
Jalan Menuju Lintasan
Undang-Undang SAVE America menghadapi perjuangan berat di Senat, meskipun disahkan oleh DPR bulan lalu. Meskipun para senator Partai Republik berupaya untuk mengajukan rancangan undang-undang tersebut di bawah tekanan Trump, prospek pengesahan RUU tersebut masih kecil. Kendala utamanya bukan pada isi RUU tersebut, namun pada sengaja menghalangi pendanaan DHS.
Implikasinya bagi Wisatawan
Tanpa perjanjian pendanaan, jalur keamanan bandara kemungkinan akan memburuk dan gangguan dapat meningkat. Nasib pendanaan TSA kini bergantung pada apakah Trump akan membiarkan tuntutan politiknya menggagalkan fungsi penting pemerintah. Jika kesepakatan tercapai, pertanyaannya adalah apakah Trump akan menerimanya atau terus memanfaatkan situasi tersebut untuk agendanya sendiri.
“Apa pun kesepakatan yang mereka buat, saya tidak senang dengan hal itu,” kata Trump, yang menunjukkan kesediaannya untuk memprioritaskan keuntungan politik dibandingkan stabilitas operasional.
Kebuntuan yang terjadi saat ini menyoroti tren yang lebih luas dalam menggunakan fungsi-fungsi penting pemerintah sebagai alat tawar-menawar untuk tujuan kebijakan yang tidak terkait. Pendekatan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas infrastruktur penting dan keandalan negosiasi politik.
Situasinya masih berubah-ubah, namun satu hal yang jelas: desakan Trump untuk menghubungkan pendanaan DHS dengan prioritas legislatifnya yang tidak terkait akan terus mengganggu operasional pemerintah dan berpotensi membahayakan keamanan nasional.
























